
Berbagi inspirasi dan saling menyemangati, meyakinkan setiap diri bahwa setiap masalah pasti ada hikmahnya
welcome to bala-bala blog....
Sabtu, 11 September 2010
maaf lahir batin ya..... semua......!!!
akankan kali ini lebih barakah
Lebaran tahun ini nggak dikampuang lagi (payakumbuh)juga nggak di Bandung, tapi juga belum keluar dari pulau jawa, bahkan masih di jawa barat...
nah trus kenapa?
sebenarnya ndak kenapa-napa sih, cuma kali ini ada yang beda, yang jelas tempatnya beda tapi lebih dari itu nuansa dan adat-istiadat dalam menyambut hari besar umat muslim ini pun rada beda dikit, walau pada konsepnya masih sama, yaitu ada moment saling memaafkan ke saudara-saudara. beda nuansa juga beda serunya.
H-4 id fitri, awal perjalanan itu bermula. karena saat itu momen penting untuk bersilaturahmi ke kampung halaman masing-masing alias mudik, maka kala itu juga tuslah alias kenaikkan ongkos transport pun tak bisa terelakkan, sebagai mahasiswa yang masih didanai dari yayasan ayah bunda pun kita masih memikirkan penghematan biaya, termasuk untuk mudik sekalipun he.... maka dari itu pun saat ada tumpangan gratis kita pun tidak menolak... mumpung.... ;);)
jalan pertama kita menuju salah satu daerah di selatan jawa barat, terkenalnya kab. ciamis tapi lebih terkenalnya dengan pangandaran dan lebih tepatnya lagi di daerah parigi, pastinya ya di rumah titi sudiati salah seorang mahasiswa farmasi itb 06, yang sekelas pasti kenal. he....
nah kita sampai dirumah titi sekitar jam setengah sepuluh malam setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam plus istirahat untuk berbuka. tapi suatu yang berkesan di perjalanan itu adalah teman2 titi yang baik + lembut mengingatkanku pada teman lamaku yang udah lama nggak bertemu (edo bedor, amelia anggraini, riki dirjo, alm. diki, rima, ririn, abes, mega, sadonyo... woy frends... i miss u so much), wuih... melihat mereka jadi pingin reunian, tapi apalah daya, tangan tak sampai (is....3x nggak nyambuang ya)
di rumah titi yang dipenuhi hiasan dan pernak-pernik unik dan bisa diuangkan,diperkenalkan dengan mama, bapak, bibi dan adik2 yang berkerja membantu di tokonya titi, rame, tapi seru. paling memalukan diri sendiri itu adalah saat disuruh sarapan berkali-kali, malu-malu-malu tapi gimana lagi di izinkan.
di parigi kita belanja ikan ke bojong salawe tempat pelelangan ikan, wuih... ikannya besar2 ada cumi juga dan yang jarang aku temui adalah bayi hiunya... kita beli ikan kakap gede plus cumi, banyangin aja betapa nikmatnya kami saat berbuka puasa... (jangan ngiler ya...!)
di perjalanan pulang kita juga mampir dulu di pantainya objek wisata lokal 'batu hiu', foto kerennya ada tapi belum bisa di upload (hi....narsis). sebenarnya di pangandaran banyak objek wisata, tapi yang aku sangat kepingin itu mengunjungi "green canyon", karena Allah belum berkehendak, mungkin lain kali aku baru bisa kesana. nah rada bikin kaget ternyata disana bisa terlihat 'nusa kambangan' bin tempat pembuangan penjahat2 besar indonesia itu, padahal dipeta pulau itu nggak ada dan aku sangat penasaran sekali kan letaknya dimana eh, tahunya kelihatan di depan mata sendiri di pantai pangandaran, jadilah ia kenangan yang menakjubkan, subhanalllah.
yang rada beda dgn shalat id fitri di luar kotaku adalah jamaahnya lebih sedikit karena memencar di beberapa mesjid, klu di 'kampuang'ku selagi bisa shalat dilapangan, maka kita akan shalat disana, biar yang lagi 'berhalangan' juga bisa ikut mendengarkan khutbah hari raya dan tentunya kelihatan amat sangat rame..........
trus ternyata yang khutbah hari itu bapaknya titi, wah aku kerkesan sekali, karena menurutku hanya orang2 keren dan spesial aja yang bisa mengisi khutbah, apalagi hari besar seperti ini.
trus.... yang paling melelahkan itu adalah perjalanan silaturahmi keliling kampung, ternyaata sekampung itu saudaranya titi semua, benar2 menguras energi, setiap rumah kami masuki dan beberapa makanan kami kantongi (he...3x) dan di sini yang paling aku takutkan akibatnya bagiku diakhirat kelak, takut "kaburo maghtan indallaha..." karena aku tahu kesalahanku dan aku lemah dalam hal ini.
satu hal yang aku takutkan akankah usai ramadhan kali ini akan lebih barakah???
:(
:(
:(
nah trus kenapa?
sebenarnya ndak kenapa-napa sih, cuma kali ini ada yang beda, yang jelas tempatnya beda tapi lebih dari itu nuansa dan adat-istiadat dalam menyambut hari besar umat muslim ini pun rada beda dikit, walau pada konsepnya masih sama, yaitu ada moment saling memaafkan ke saudara-saudara. beda nuansa juga beda serunya.
H-4 id fitri, awal perjalanan itu bermula. karena saat itu momen penting untuk bersilaturahmi ke kampung halaman masing-masing alias mudik, maka kala itu juga tuslah alias kenaikkan ongkos transport pun tak bisa terelakkan, sebagai mahasiswa yang masih didanai dari yayasan ayah bunda pun kita masih memikirkan penghematan biaya, termasuk untuk mudik sekalipun he.... maka dari itu pun saat ada tumpangan gratis kita pun tidak menolak... mumpung.... ;);)
jalan pertama kita menuju salah satu daerah di selatan jawa barat, terkenalnya kab. ciamis tapi lebih terkenalnya dengan pangandaran dan lebih tepatnya lagi di daerah parigi, pastinya ya di rumah titi sudiati salah seorang mahasiswa farmasi itb 06, yang sekelas pasti kenal. he....
nah kita sampai dirumah titi sekitar jam setengah sepuluh malam setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam plus istirahat untuk berbuka. tapi suatu yang berkesan di perjalanan itu adalah teman2 titi yang baik + lembut mengingatkanku pada teman lamaku yang udah lama nggak bertemu (edo bedor, amelia anggraini, riki dirjo, alm. diki, rima, ririn, abes, mega, sadonyo... woy frends... i miss u so much), wuih... melihat mereka jadi pingin reunian, tapi apalah daya, tangan tak sampai (is....3x nggak nyambuang ya)
di rumah titi yang dipenuhi hiasan dan pernak-pernik unik dan bisa diuangkan,diperkenalkan dengan mama, bapak, bibi dan adik2 yang berkerja membantu di tokonya titi, rame, tapi seru. paling memalukan diri sendiri itu adalah saat disuruh sarapan berkali-kali, malu-malu-malu tapi gimana lagi di izinkan.
di parigi kita belanja ikan ke bojong salawe tempat pelelangan ikan, wuih... ikannya besar2 ada cumi juga dan yang jarang aku temui adalah bayi hiunya... kita beli ikan kakap gede plus cumi, banyangin aja betapa nikmatnya kami saat berbuka puasa... (jangan ngiler ya...!)
di perjalanan pulang kita juga mampir dulu di pantainya objek wisata lokal 'batu hiu', foto kerennya ada tapi belum bisa di upload (hi....narsis). sebenarnya di pangandaran banyak objek wisata, tapi yang aku sangat kepingin itu mengunjungi "green canyon", karena Allah belum berkehendak, mungkin lain kali aku baru bisa kesana. nah rada bikin kaget ternyata disana bisa terlihat 'nusa kambangan' bin tempat pembuangan penjahat2 besar indonesia itu, padahal dipeta pulau itu nggak ada dan aku sangat penasaran sekali kan letaknya dimana eh, tahunya kelihatan di depan mata sendiri di pantai pangandaran, jadilah ia kenangan yang menakjubkan, subhanalllah.
yang rada beda dgn shalat id fitri di luar kotaku adalah jamaahnya lebih sedikit karena memencar di beberapa mesjid, klu di 'kampuang'ku selagi bisa shalat dilapangan, maka kita akan shalat disana, biar yang lagi 'berhalangan' juga bisa ikut mendengarkan khutbah hari raya dan tentunya kelihatan amat sangat rame..........
trus ternyata yang khutbah hari itu bapaknya titi, wah aku kerkesan sekali, karena menurutku hanya orang2 keren dan spesial aja yang bisa mengisi khutbah, apalagi hari besar seperti ini.
trus.... yang paling melelahkan itu adalah perjalanan silaturahmi keliling kampung, ternyaata sekampung itu saudaranya titi semua, benar2 menguras energi, setiap rumah kami masuki dan beberapa makanan kami kantongi (he...3x) dan di sini yang paling aku takutkan akibatnya bagiku diakhirat kelak, takut "kaburo maghtan indallaha..." karena aku tahu kesalahanku dan aku lemah dalam hal ini.
satu hal yang aku takutkan akankah usai ramadhan kali ini akan lebih barakah???
:(
:(
:(
Kamis, 02 September 2010
di bulan 9.1431H
tak terasa sudah lebih dari 20 kali ramdhan yang terlewati selama rentang usia. tapi makna2 setiap tahunnya selalu ada dan berhikmah baru, kadang nyata tapi benar2 di luar dugaan dan banyangan.
kalaulah dunia ini begitu indah dengan keindahan yang tiada terduga, bagaimanakah lagi surga ya, yang Allah sendiri jelaskan tak bisa dibayangkan dengan bayangan imajinasi manusia karena begitu indahnya.
saat kaki sulit iklas melahkah menuju rumah agung sang pencipta, namun di balik itu masih ada kata hati yang menjadi penguat, mencari iming2 yang dijanjikanNya maka Ia takkan mengurangi sedikit pun nikmatnya untuk hamba2nya.
maka saat berat senatiasalah melangkah jua.
saat seorang muslimah muda mencoba menghadirkan hatinya untuk Sang Murabbi Yang Maha Perkasa dengan menyenandungkan ayat-ayat lembaran suci di pojok sebuah masjid, Ia berikan aliran yang diinginkan pemudi itu sehingga mata indahhnya pun mampu tergenang oleh bening air mata yang di riwayatkan mampun memadamkan api neraka. tak hanya itu saat senandung rindu itu ia tuntaskan Sang Pencinta pun mengirimkan makhluk Yang diintainya, hafidz Al-quran.
lewat bibir sang hafidzah kegersangan dihatinya pun sedikit2 terisi, ibarat oase yang terbentuk begitu saja di tengah gurun nan tandus, ialah penutur hikmah.
kalaulah dunia ini begitu indah dengan keindahan yang tiada terduga, bagaimanakah lagi surga ya, yang Allah sendiri jelaskan tak bisa dibayangkan dengan bayangan imajinasi manusia karena begitu indahnya.
saat kaki sulit iklas melahkah menuju rumah agung sang pencipta, namun di balik itu masih ada kata hati yang menjadi penguat, mencari iming2 yang dijanjikanNya maka Ia takkan mengurangi sedikit pun nikmatnya untuk hamba2nya.
maka saat berat senatiasalah melangkah jua.
saat seorang muslimah muda mencoba menghadirkan hatinya untuk Sang Murabbi Yang Maha Perkasa dengan menyenandungkan ayat-ayat lembaran suci di pojok sebuah masjid, Ia berikan aliran yang diinginkan pemudi itu sehingga mata indahhnya pun mampu tergenang oleh bening air mata yang di riwayatkan mampun memadamkan api neraka. tak hanya itu saat senandung rindu itu ia tuntaskan Sang Pencinta pun mengirimkan makhluk Yang diintainya, hafidz Al-quran.
lewat bibir sang hafidzah kegersangan dihatinya pun sedikit2 terisi, ibarat oase yang terbentuk begitu saja di tengah gurun nan tandus, ialah penutur hikmah.
Langganan:
Postingan (Atom)