welcome to bala-bala blog....

Assalamua'laikum please enjoy the text... ^^ Bismillahirrahmanirrahim, In the name of Allah who is most gracious and most merciful

Selasa, 16 Oktober 2012

Senin, 08 Oktober 2012

In an afternon at october 7, 2012




Seperti hari biasa saat aku sudah sampai di pekan baru, belum ada teman yang bisa bersahabat baik denganku. Mungkin itu salah satu kekuranganku, tertutup dan agak butuh chemistry tersendiri untuk bisa dekat dengan orang baru apalagi dilingkungan baru. Tapi mungkin itu jua istimewanya aku… (heee membahagiakan diri sendiri).
Untuk mengilangkan kejenuhan di tempat kos, sore itu ku tarik semangatku sedemikian rupa sehingga bisa mengajak kaki ini melangkah untuk membeli keperluan sehari-hari disebuah mal (ya tentunya yang terdekat dari tempat aku ngekos). Sengaja ku perlama keberadaanku dalam gedung itu, walau belanjaanku sudah dirasa cukup, aku ingin menghabiskan waktu ku, agar saat sampai dikosan kejenuhanku segera terkurangi. Disamping itu aku juga malas harus berdesakan ngantri di depan kasa pembayaran, maklum aku berbelanja pada hari minggu (saat orang-orang sibuk dikota ini tumpah ke mal untuk berbelanja kebutuhan harian mereka, wajar saja disaat hari-hari kerja mereka tidak sempat untuk berbelanja karena keharusan mencari uang dari pagi sampai sore selain itu mal juga merupakan tempat wisata di kota ini, kabar dari teman-teman yang udah lama tinggal dikota ini, memang tidak ada objek wisata alam yang patut di kunjungi sehingga setiap akhir pekan, mal lah yang menjadi ajang bertamasyanya warga kota).
Tapi sayangnya anggapanku tidak sesuai yang diharapkan, walaupun sudah dua jam aku berkeliling didalam mal tersebut , waktu seolah tak bergeser. Masih pukul 4 sore. Terlalu dini untuk pulang. Suntuk dan sedih membaur, aku belum ingin pulang, jadi ku pilih untuk duduk-duduk di kursi taman mal tersebut, melihat aktivitas orang berlalu lalang di jalan utama persis di depan gedung bertingkat itu.
Aku memilih duduk di sebuah kursi panjang deretan kedua dari pintu gerbang, selain di kursi itu tak ada seorang pun, ia berada di dekat sebuah pohon rindang, lumayan untuk menyejukkan suasana. Sembari asyik mengamati ramainya jalan (sekalian melirik-lirik mobil yang bisa dijadikan model untuk kendaraan yang hendak ku miliki kelak) dan sesekali terkejut oleh suara sirine kendaraan polisi yang mengawal kontigen-kontigen peserta PAPERNAS (yang pembukaannya akan berlangsung malam ini dan dihadiri oleh wakil presiden, bapak Budiono).
Di tengah keasyikan ku itu datang lah sepasang suami istri (sepertinya suku jawa, kusimpulkan dari bahasa yang digunakannya)duduk dikursi yang sama denganku. Mesra juga bahagia, dan sepertinya lagi menunggu seseorang, mungkin anaknya (kusimpulkan juga dari gelagat mereka yang hampir tiap sebentar menelepon dan menanyakan posisi, walau pun mereka pake bahasa jawa aku sedikit-sedikit memahami, wong beberapa waktu aku pernah bermukim di pulau itu, narsis dikit boleh ya…). Ternyata kesimpulanku sedikit meleset, saat si ibu tersenyum dan tampak agak bersembunyi dekatku yang kebetulan duduk didekat sebuah tiang, sang bapak berkata sambil tersenyum,”ini, kita lagi ngerjain anak, tadi dia naik taxi sendiri”. Setelah melihat si anak masuk ke gedung mal, mereka pun tersenyum padaku, pamit dan tentu mau membuntuti anaknya ke dalam.
Mungkin hanya sekilas peristiwa, dan mungkin bagi sebagian orang itu juga hal yang biasa, atau juga yang bilang pekerjaan orang kurang kerjaan, terserah, tapi bagiku itu adalah peristiwa INDAH. Bagaimana tidak, aku yang belum memiliki sahabat di negeri baru rasa kekeluargaanlah yang ku rindui, rasa diperhatikan jua tentu ku nantikan. Dan saat itu jika aku jadi anak mereka aku akan sangat berbahagia walau berpura-pura marah saat ketahuan dikerjai. Oleh orang tua lengkap (secara gitu aku kini dididik oleh single parent), mereka memperhatikanku dan meyamankan ku dengan cara yang berbeda.
Keindahan itu jua yang membuat airmataku mengalir, sembari menyungging senyum dan saat-saat seperti itu semua memori akan kebersamaan muncul di ingatan. Namun satu yang ku ingat di saat seperti itu, masih ada lagi cobaan besar seperti ini yang mungkin aku hadapi, mungkin aku tidak bisa mengerti sama sekali dengan orang-orang disekitarku baik bahasanya atau mungkin kebiasaannya, karena aku ingin sekali keluar negeri satu saat nanti. So hari ini aku harus kuat, ini demi hari depanku.
Cayo, masa depan ada di depan mata, so jangan menyerah hanya dengan tantangan kecil…

Jumat, 22 Juni 2012

Jurnal: Ubi Ungu, Indikator Asam Basa (pH)


Pendahuluan
Latar belakang
Semasa sekolah dulu, pada mata pelajaran kimia pernah aku membaca bahwa keasaman suatu zat dapat diukur dengan indikator asam basa, untuk kapasitas laboratorium kita dapat menjumpai alat bernama pH meter (system digital, hasil yang muncul berupa angka-angka) atau pun juga kertas lakmus (warna yang terbentuk pada kertas dicocokan dengan pedoman yang sudah tertera pada kotak penyimpanan kertas tersebut), namun kedua alat tersebut memiliki harga yang cukup mahal, sementara untuk pengukuran yang bersifat sederhana (jika kita hanya ingin mengetahui zat tersebut berada pada kondisi asam atau basa saja tanpa memperhitungkan nilainya) kita dapat menggunakan beberapa tumbuhan yang dapat dijadikan indicator.
Ubi jalar ungu/ ubi ungu (purple sweet potato)merupakan salah satu jenis tamanan yang sering diolah menjadi panganan tradisional, baik itu direbus goreng, bakar atau pun dengan pengolahan yang lebih kompleks dengan penambahan bahan-bahan alam lainnya. Misalnya pembuatan tumbang (makanan tradisional minang, pengolahan ubi dengan merebus dan ditumbuh lalu dicampurkan dengan kelapa parut). Tumbang yang masih baik akan berwarna ungu bercampur putih, sedangkan jika menjadi kadaluarsa ia akan berubah warna menjadi maron dan  merah, unik. Sedangkan jika kita mencuci piring bekas tempatnya maka kita dapat melihat perubahan warna sisa-sisa ubi yang semula berwarna ungu tersebut berubah menjadi kebiruan. Waw keren ya!
Lalu apa hubungannya dengan indikator keasaman (pH)? Praduga ku saat menemukan fenomena tersebut bahwa umbi tumbuhan yang berdaun ungu ini adalah salah satu jenis tumbuhan yang disebutkan sebelumnya. Hal ini disimpulkan karena pada umumnya bakteri pada makan yang basi/ menyebabkan makanan basi menghasilkan zat yang bersifat asam, jika bakteri tersebut berkembangbiak dan kemudian menjadi banyak maka tingkat keasaamannya juga akan tinggi sehingga ia dapat mengubah warna putih kelapa pada ubi menjadi merah , sedangkan sabun cuci diketahui memiliki sifat basa sehingga saat mencuci piring ia akan mengubah warna air yang terlarut ubi menjadi kebiruan. Pasalnya juga saat kita mengunakan kertas lakmus di laborarium zat-zat yang bersifat asam akan mengubah kertas tersebut menjadi warna merah, orange hingga kuning sedangkan yang bersifat basa akan mengubah warna kertas menjadi hijau,biru hingga ungu.












“tumbang ubi ungu”















“tumbang basi”

Nah berdasarkan dari itu timbul pertanyaan, benar nggak sih ubi ungu tersebut dapat menjadi indicator asam basa, atau emang Cuma kebetulan? Maka dari itu aku menlakukan percobaan kecil berikut.

Tujuan pelaksaan
1.       Menjawab rasa penasaran (???)
2.       Mengisi waktu ^^

Metode
1.       Siapkan larutan ubi ungu pekat yang dibuat dengan mencampurkan rebusan ubi ungu dan airnya dengan air.
2.       Siapkan 3 wadah berisi 3 sendok air dengan tingkat keasaman berbeda
-          Air + sabun cuci piring cair (basa)
-          Air tidak ada tambahan (netral)
-          Air + potongan asam kandis (asam)
3.       Tambahkan setiap wadah dengan tiga sendok larutan pekat (larutan 1)

Hasil dan pembahasan
Marvelous! Hasilnya menakjubkan




















Air dalam wadah basa berubah menjadi ungu cerah, air dalam wadah asam berubah menjadi merah.
Jadi perubahan warna yang terjadi pada makanan tumbang yang sebelumnya kurang jelas emang akibat dari perbedaan keasamannya, buka pengaruh penambahan bahan-bahan lain yang ada pada makan tumbang tadi, bakteri yang mengubah tumbang menjadi basi dab berwarna merah dapat dikatakan bersifat asam, jadi kita harus berhati-hati loh saatmelihat makanan kita menjadi berubah warna terutama jika ia dari tumbuhan dan mungkin juga termasuk salah satu indicator asam basa. Nah kan nggak lucu ya kalo ntar kita dah “melihat” bakteri, masih memakan mereka.
Kesimpulan
Ubi ungu yang kudapatkan dari kebun ibu dapat menjadi salah satu indicator asam basa (pH)

Pertanyaan untuk penelitian lebih lanjut, he…
1.       Kira-kira neh. Kalo ubi ungu ditanam pada tanah yang kandungan asam basa yang berbaeda-beda, ntar warna umbinya juga bervariasi nggak sih?
2.       Nah buat pencinta kuliner nih, mungkin juga mereka bisa bikin ubi rebus jadi bergardasi, tinggal nambahi zat yang besifat asam atau basa pada bagian-bagian yang diinginkan, lucu juga kali kalo bias bikin “rebus ubi batik” sekalian. ???
3.       Sekarang kita berimajinasi. Seandainya tubuh manusia transparan apakah warna-warni ini akan terlihat pada saluran pencernaan kala mereka makan ubi ini? Pertama akan terlihat warna ungu saat mereka memegang ubi ungu, terus saat masuk kedalam mulut terlihatlah siluet-siluet berwarna kebiruan karena air ludah kita membuat suasana rongga mulut menjadi bersifat basa, lalu saat perjalanan memasuki lambung mulai lah tampak sedikit sedikit perubahan warna menjadi merah dan semakin merah, karena HCL yang ada dilambung bersifat sangat asam, setelah 2 jaman berselang makanan tadi berangsur memasuki usus dan menjadi kehijauan karea pewarna empedu dan kemudian akan berangsur-anggsur menjadi kuning saat proses kimiawi di usus terus berlanjut. Waw… kalo beneran ya? Subhanallah. Sang Maha pencipta emang cool.
4.       Apakah jika bakteri terkena zat warna ubi ungu ini bias dilihat dibawah mikroskop? Wah kalo bisa bisa gantiin pewarnaan gram…

Senin, 18 Juni 2012

Belajar Memotret: Eksotisme kebun kecil

"terus bertumbuh"
 "bermula"
 "setiap generasi berusaha"
 "Seperti Wanita"
 "lembut Nan Perkasa"
 "yang tak Terekspos"
 "Semarak"
 "Yang Muda Pasti Menua"
 "hendak menyamai"
 "tersenyum"
"damai"

Minggu, 10 Juni 2012

The Song, that make me brave and afraid




Number One For Me (lyric)
By. Maher Zain

I was a foolish little child
Crazy things I used to do
And all the pain I put you through
Mama now I’m here for you

For all the times I made you cry
The days I told you lies
Now it’s time for you to rise
For all the things you sacrificed

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I’m all grown up now
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday

Mom I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday

Now I finally understand
That famous line
About the day I’d face in time
Coz now I have a child of mine

And Even though I was so bad
I’ve learnt so much from you
Now I’m trying to do it too
Love my kids the way you do

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I’m all grown up now
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday
Mom I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday

You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
Number one for me

You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
Number one for me

There is no one in this world
That can take your place
Oooh I’m sorry for ever taken you for granted

I will use every chance I get
To make you smile
Whenever I’m around you
Now I will to try to love you
Like you love me
Only God knows how much you mean to me

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh

Mom I’m all grown up now
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday

Mom I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday (2X)

The number one for me
The number one for me
The number one for me
Oh oh
Number one for me

Kamis, 17 Mei 2012

Copy dari teman


“AKU RINDU”
(alm. Ust. Rahmat Abdullah-Allah Yarham)
 
Aku Rindu Zaman
Ketika Halaqah adalah Kenikmatan, Bukan Sekedar Sambilan Apalagi Hiburan
Aku Rindu Zaman
Ketika Membina adalah Kewajiban, Bukan Pilihan Apalagi Beban dan Paksaan
Aku Rindu Zaman
Ketika Dauroh Menjadi Kebiasaan, Bukan Sekedar Pelengkap Pengisi Program yang Dipaksakan
Aku Rindu Zaman
Ketika Tsiqoh Menjadi Kekuatan, Bukan Keraguan Apalagi Kecurigaan
Aku Rindu Zaman
Ketika Tarbiyah adalah Pengorbanan, Bukan Tuntutan, Hujatan dan Objekan
Aku Rindu Zaman
Ketika Nasehat Menjadi Kesenangan, Bukan Su’udzhon atau Menjatuhkan
Aku Rindu Zaman
Ketika Kita Semua Memberikan Segalanya Untuk Dakwah Ini
Aku Rindu Zaman
Ketika Nasyid Ghuraba Menjadi Lagu Keseharian
Aku Rindu Zaman
Ketika Hadir Liqo adalah Kerinduan dan Terlambat adalah Kelalaian
Aku Rindu Zaman
Ketika Malam Gerimis Pergi ke Puncak Mengisi Dauroh dengan Ongkos Terbatas dan Peta Tak Jelas
Aku Rindu Zaman
Ketika Seoarang Ikhwah Benar-benar Berjalan Kaki 2 jam di Malam Buta Sepulang Tabligh Dakwah di Desa Sebelah
Aku Rindu Zaman
Ketika Pergi Liqo Selalu Membawa Infaq, Alat Tulis, Buku Catatan dan Qur’an Terjemah ditambah Sedikit Hafalan
Aku Rindu Zaman
Ketika Binaan Menangis Karena Tak Bisa Hadir di Liqo
Aku Rindu Zaman
Ketika Tengah Malam Pintu Diketuk untuk Mendapat Berita Kumpul di Subuh Harinya
Aku Rindu Zaman
Ketika Seorang Ikhwah Berangkat Liqo dengan Uang Belanja Esok Hari untuk Keluarganya
Aku Rindu Zaman
Ketika Seorang Murabbi Sakit dan Harus dirawat, Para Binaan Patungan Mengumpulkan Dana Apa Adanya
Aku Rindu Zaman Itu
Yaa Rabb…
Jangan Kau Buang Kenikmatan Berdakwah dari Hati Kami
Yaa Rabb…
Karuniakanlah Kepada Kami, Keistiqamahan di Jalan Dakwah Ini
__._,_.___